Apa Itu Deliberate Practice dan Bagaimana Menerapkannya

Apa Itu Deliberate Practice dan Bagaimana Menerapkannya

Put in about 10,000 hours of practice, and you’ll become an expert”. (Malcolm Gladwell)

Tetapi ternyata melakukan sesuatu berulang-ulang tidak cukup membuat seseorang menjadi seorang master atau top level dalam suatu bidang. Untuk benar-benar menguasai skill, seseorang harus melakukan deliberate practice. Deliberate practice adalah sebuah istilah yang diperkenalkan Professor Anders Erricson seorang expertis di bidang pengembangan sumber daya manusia.

Kenapa 10.000 hours of practice saja tidak cukup?

Contohnya saja seorang tukang jahit yang setiap hari menjahit pakaian apakah lama kelamaan si tukang jahit menjadi mahir kemudian berubah menjadi seorang desainer handal. Mungkin kemampuan si tukang jahit akan meningkat seiring dengan seringnya dia menjahit. Tapi ketika batas tertentu kemampuan si tukang jahit tidak akan meningkat lagi atau istilahnya si tukang jahit sudah mencapai batas kemampuannya.

Kenapa ini bisa terjadi?

Saya masih ingat, dulu saya sering main Dota. Teman-teman saya pun banyak yang bermain Dota. Frekuensi bermain dota saya dan teman saya relatif sama. Tapi, saya dan beberapa teman saya bisa dibilang skillnya lebih daripada skill beberapa teman saya yang lain?

Ternyata ada satu perbedaan, Saya dan temen-teman saya yang skillnya di atas rata-rata, kenal, bergaul dan sering main bareng dengan orang yang secara skill sangat jago dalam bermain Dota. Otomatis saya dan teman-temen saya mempunyai sesuatu yang saya sebut Grand Design yang lebih baik dibanding beberapa teman saya yang lain.

Apa Itu Deliberate Practice dan Bagaimana Menerapkannya

Ini merupakan salah satu komponen dalam Deliberate Practice. Ketika belajar sesuatu, entah apapun itu pastikan ada grand design-nya. Ketika anda belajar berenang pastikan anda punya satu orang yang menjadi grand design, bisa teman anda yang jago, guru renang anda, atau perenang professional favorit anda. Pastikan anda mengenal seluk beluknya, apa yang dilakukannya kalau perlu sampai ke makanan favoritnya.

Untuk mencari sebuah grand design di era digital sekarang ini tentu tidak terlalu sulit. Youtube, social media sangat mudah sekali mengaksesnya. Sangat mudah bagi kita untuk kepo, belajar melalui artikel, gambar, video atau apapun dari tokoh idola kita.

Selain itu hal kedua adalah anda harus mempush diri anda untuk menembus batasan atau boundary anda. Atau bahasa ngetrend-nya adalah keluar dari zona nyaman. Pernahkah anda menghadapi sesuatu? Ketika saat-saat itu anda merasa sangat sulit, rasanya ingin menyerah, tidak nyaman, tetapi karena anda struggle, anda bisa melewati itu dan ketika melihat lagi ke belakang, ternyata hal yang  anda lewati akan terasa mudah jika anda melakukannya sekali lagi.

Pernah?

Pasti pernah! Ingat ketika anda menyelesaikan skripsi atau Tugas Akhir anda? Dengan perspektif anda yang sekarang apakah anda butuh waktu 1 tahun atau lebih untuk menyelesaikan skripsi?

Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah adanya feedback dari luar, bisa dari orang lain yang dekat dengan anda, mentor ataupun anda sendiri. Kalau dalam dunia Facebook Ads misalnya, feedback bisa didapatkan dengan cara melihat report iklan yang anda launch. Apakah iklan anda mendapatkan ROI yang positif atau malah setiap hari boncos? Apa yang akan anda lakukan untuk memperbaikinya? Bisa dengan belajar sendiri, atau bertanya ke mentor dan komunitas seperti yang saya lakukan dengan bergabung di komunitas DM-Labs .

Apa Itu Deliberate Practice dan Bagaimana MenerapkannyaItulah yang dinamakan deliberate practice. Intinya dalam tulisan ini ada 3 poin penting yang sebelumnya sudah dijelaskan untuk sukses melakukan deliberate practice

  1. Temukan Grand Design.
  2. Keluar dari zona nyaman.
  3. Menerima Feedback

Terima kasih semoga menjadi insight yang bermanfaat.

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan