Don’t Be A Little Bitch

Don’t Be A Little Bitch

Zaman sekarang kritik ada dimana-mana, mudah sekali menemukan sebuah status, tweet, postingan yang isinya kritik, kritik dan kritik. Bentuknya macam-macam dimulai dari high level critics (ekonomi,politk dsb) sampai kritik-kritik level “Kenapa sih ini PLN! Lagi nugas malah mati lampu”.

Tidak ada yang salah dengan sebuah kritik, karena kritik seyogyanya adalah sebuah feedback dari orang lain untuk mengetahui apakah “am I doing it right, or am i doing it wrong”. Yang jadi masalah adalah ketika kita beranggapan sesuatu yang terjadi pada diri kita semuanya adalah kesalahan dari faktor luar

Mental dan kebiasaan seperti ini yang menjadi masalah.

Ketika mendapat nilai jelek, kita bilang guru/dosen tidak fair.

Ketika ban bocor saat pergi ke kantor, kita menyalahkan tukang tebar paku.

Ketika hujan padahal ada janjian, kita bilang (“ Yaa Allah kenapa sih hujan..) sampai-sampai Tuhan saja kita salahkan

Astagfirullah

That sucks

Don't Be A Little Bitch

Ketika guru/dosen memberi kita nilai jelek, belajarlah lebih giat. Dekati dosen/guru nya!

Ketika ban bocor pas ke kantor, mulai periksa kondisi ban setiap ke mana-mana!

Ketika hujan, beli jas hujan! Atau batalkan janjiannya, minta maaf, bikin janji baru!

Ketika kita mulai memutuskan untuk mengontrol dan meningkatkan tanggung jawab atas semua yang terjadi, kita akan lebih mudah menemukan solusi-solusi untuk membuat segalanya beres.

Bagaimana caranya kita bisa berpikir solusi, kalau kita memandang diri kita sendiri adalah seorang korban. Di film-film superhero manapun tidak ada yang namanya korban memecahkan masalahnya sendiri. Yang terjadi adalah si korban menunggu pertolongan superhero untuk keluar dari masalah.

Apakah kita ingin menjadi seorang korban? Menggantungkan harapan pada seorang superhero yang superheronya pun belum tentu ada wujudnya atau belum tentu mau menolong kita?

Kalau saya pribadi sih tidak mau, bagaimana logikanya menggantungkan kehidupan kita pada seseorang yang seseorang itu sendiri belum tentu terjamin kehidupannya.

Mulailah untuk bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi bahkan untuk hal-hal yang kita tidak punya kontrol terhadapnya. Contoh ketika sedang mengerjakan tugas kemudian dilakukan pemadaman oleh PLN. Kalau dipikir-pikir apa salah kita sampai-sampai ada pemadaman pas ngerjain tugas? Bayar listrik selalu tepat waktu, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba listrik padam..

Mau protes ke PLN? tapi sayangnya yang sering terjadi adalah walaupun kita protes sekeras apapun lewat telpon, twitter, atau datang langsung ke kantor PLN. Pemadaman akan tetap terjadi, karena harus terjadi!

Kita punya opsi. Apakah kita akan menghabiskan energi dan waktu kita untuk menggerutu, protes pada PLN. Atau kita menghubungi teman kita daerah sekitar yang tidak mengalami pemadaman agar bisa nebeng listrik?

Tapi kan rumah teman saya jauh,

Butuh bensin..

Males keluar..

Udara panas..

Gimana dong?

As i said before.. Don’t be a little bitch!

 

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan