Hari Terakhir Ngalay

Saya merupakan orang yang jarang ngeshare kehidupan di Instagram alasannya karena saya tidak punya banyak foto. Saya jarang sekali melakukan inisiatif untuk difoto.

Bukannya gak mau difoto tapi alasannya karena gengsi. Mau tapi gengsi.. mau tapi malu in the whole next level.

Ini sesuai dengan ramalan dari dosen saya Bu Elizabeth “ Kamu orangnya.. gengsinya tinggi” begitu katanya ketika meramal sifat, dari impresi pertama diri saya.

Perjalanan saya tulisan-tulisan random yang saya share di Instagram ternyata tidak semulus paha taylor swift seperti yg diprediksi khalayak pribadi.

Dicaci, dimaki, diludahin, (secara digital) sudah jadi makanan sehari2. .
Macam2 bentuknya ada yang bilang alay, gak jelas, rujit, dll. .

Tapi justru ini yang menarik, semakin sering diperlakukan seperti itu rasanya semakin biasa saja bagi saya. Saya semakin tidak peka dengan komentar orang2 di dunia maya. Entahlah, apakah ini baik atau buruk. .

Mungkin ini pula yang dirasakan publik2 figur kontroversial semacam young lex & awkarin. Mereka dicaci maki, dihina dalam skala yg lebih besar, tapi karena mereka sudah mati rasa, seekstrim apapun hinaan itu selama tidak mempengaruhi kehidupan nyata mereka, mereka tidak akan terpengaruh.

Tetapi perlu dicatat ini berbeda kasusnya, hinaan dan komentar merendahkan yg datang dari teman2 saya, sifatnya hanya candaan.

Bhakshit, Jajang, Eki, Yosep, Bagus, Doni, Ardan, & Denshit mereka semua adalah orang2 baik. Ya walaupun celah untuk melakukan tindakan KKN selalu ada tetapi semoga kita dilindungi dan dijauhkan dari tindakan hina tersebut.

Besok gak bakal ada lagi tulisan tulisan panjang dari instagram.com/aaadinagara menghiasi timeline kalian. Jadi jangan pernah sekalipun kalian ngeDM. “Kak adi kak adi ayo nulis lagi”. Jawabannya jelas, saya tidak mau! .

Kecuali dibayar.. Because everything has a price.

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan