Kenapa Berhenti Mengkonsumsi Berita dan Gosip Hukumnya Wajib

Kenapa Berhenti Mengkonsumsi Berita dan Gosip Hukumnya Wajib.

Berita yang saya maksud disini spesifik untuk berita yang berbau politik dan gosip.

Sudah sekitar 6 bulan saya berhenti mengikuti berita seperti Line Today, Feed yang muncul di browser atau Link yang dibagikan following atau friend di Facebook. Semuanya 95% saya scroll cepat-cepat agar sebisa mungkin tidak terbaca.

Cukup ekstrim sebenarnya. Seolah-olah membaca berita atau gosip merupakan sebuah dosa.

Tapi ini adalah bentuk komitmen saya untuk menghilangkan bias dalam memandang sesuatu.

Bias dalam memandang sesuatu ini merupakan sebuah problem karena bias bisa membuat kita tidak bisa melihat secara jelas mana hal yang benar mana hal yang salah.

Apalagi dengan algoritma sosial media yang berbasis “interest” menjadikan fenomena bias ini semakin menjadi-jadi.

Misalnya Youtube. Ketika kita melihat video tentang seseorang yang condong pada pandangan politik A. Maka, video-video selanjutnya yang akan mendominasi muncul di feed kita adalah video dengan tema yang mendukung pandangan politik A.

Ketika kita sekali saja menonton video music genre dangdut, video-video selanjutnya yang akan muncul di feed adalah video music dangdut. Hal itu akan berlangsung terus menerus sampai membuat kita kecanduan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kecanduan musik dangdut. Apalagi kalau pekerjaan kita adalah penyanyi dangdut. Yang jadi problem adalah ketika kita kecanduan hal yang sama sekali tidak bermanfaat bahkan merugikan kita.

Kecanduan tidak sama dengan setuju. Setuju itu wajar tapi kalau kecanduan itu problem.

Kenapa Berhenti Mengkonsumsi Berita dan Gosip Hukumnya Wajib.

Pernahkah kalian membaca sebuah berita politik dan kalian setuju dengan konten berita tersebut?

Dopamine! Kalian akan merasa senang kemudian ada keinginan untuk mengkonsumsi konten sejenis dengan tema yang sama. Perasaan itu akan muncul, setidaknya itu yang saya rasakan.

Ini berbahaya.. Dulu saya pernah menonton video yang menjelek-jelekkan ayu ting-ting, rasanya nikmat sekali.

“Oh iya ya, ayu tingting emang gitu..”

“Iya emang parah nih ayu ting-ting”

Ujung-ujungnya saya jadi tidak suka ayu ting-ting padahal saya sama sekali tidak kenal ayu ting-ting. Saya tidak kenal, saya tidak tahu apa kelebihan ayu ting-ting tapi dengan arogannya saya mencap ayu ting-ting seseorang yang tidak baik.

Padahal saya tidak tahu bagaimana strategi personal branding yang dia lakukan sampai bisa seterkenal itu. Saya tidak tahu bagaimana dia berlatih vokal sehingga suaranya bisa merdu. Semuanya bias gara-gara saya selalu dicekoki konten yang memojokkan ayu ting-ting.

Ada 2 kerugian yang saya alami. Yang pertama adalah terjadinya “bias” dan yang kedua adalah waktu saya terbuang.

Pada awalnya saya khawatir jika saya mulai mengurangi bahkan berhenti mengkonsumsi konten-konten tertentu, saya akan jadi orang yang kudet. Kurang update.

Dan ternyata benar.

Saya baru mengetahui apa itu Royal Wedding hari ini sekitar seminggu setelah kejadian

Saya baru mengetahui ada minuman namanya Es Kepal Milo 1 bulan setelah minuman itu launching..

Kenapa Berhenti Mengkonsumsi Berita dan Gosip Hukumnya Wajib.

Kabar baiknya adalah.

Saya baik-baik saja..

Saya masih bisa makan walaupun saya tidak tahu apa itu Royal Wedding.

Saya tidak dipecat dari pekerjaan saya gara-gara saya tidak tahu apa itu Es Kepal Milo.

Sekarang coba pikir kembali.

Apakah dengan mengetahui konflik yang terjadi di monas antara kubu politik A dan kubu politik B bisa mempengaruhi hidup kalian?

Jika iya? Silahkan konsumsi konten tersebut.

Jika tidak.

Silahkan cari konten lain yang lebih relevan dengan hidup kalian.

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan