Kenapa Saya Tidak Suka Politik

Jawabannya adalah karena saya tidak nasionalis. Bagi saya kebenaran dan kebaikan itu seharusnya bersifat universal. Jika si Cina ternyata lebih kompeten dari kita, kita seharusnya tidak punya hak untuk mengusir dia untuk tidak mencari rezeki di Indonesia hanya karena dia Cina.

Bahkan kalau konteksnya agama, saya lebih menghormati orang yg berbeda agama dengan saya tapi berkelakuan baik daripada orang yang se-agama tapi sehari-harinya merugikan orang lain. Biarlah urusan masuk Surga dan Neraka itu urusan Tuhan.

Apalagi kalau bicara politik. Jujur saja saya muak dan memilih untuk tidak peduli dengan keadaan politik. Bagi saya politik hanyalah buang-buang waktu.

Debat-debat dengan unsur politik, postingan dan komentar orang2 yang bertengkar gara-gara politik, statement seorang oknum di kubu politik tertentu.

Rasanya penat sekali mengkonsumsi konten-konten seperti itu

Saya merasa politik sudah bergerak ke jalur yang salah. Politik yang dulunya berfungsi sebagai alat untuk membuat suatu kebijakan yang masif.
Sekarang, rasanya si politik ini berubah menjadi suatu mekanisme untuk membuktikan bahwa suatu golongan lebih baik dari golongan lainnya.

Oleh karena itu, saat ini rasanya cukup bijak bagi saya untuk benar-benar tidak peduli dengan politik.

Tapi jangan salah menilai. Saya bukan tipe orang golongan putih yang tidak memberikan suaranya ketika pemilu. Saya tetap memilih pemimpin namun tidak melakukannya dengan berlebihan
Karena bagi saya.. di level saya..
Politik tidak memberikan efek apa-apa terhadap diri saya.
Mau Presidennya Jokowi, Prabowo, Atau Hotman Paris sekalipun.

Kenapa Saya Tidak Suka Politik

Mungkin banyak dari kalian akan berkata.
“Iya tapi bagaimana nasibnya dengan orang yang benar-benar miskin? mereka menggantungkan
kehidupannya pada pemerintah. Jangan egois! iya kamu enak, punya kerjaan, punya rumah, punya
kendaraan, kalau mereka gimana?.

Justru ini..

Kenapa kita kaum menengah terlalu memusingkan tentang politik. Saya rasa siapapun pemimpinnya, Prabowo, Jokowi atau siapapun yang bisa sampai ke level Capres. Mereka sudah teruji. Mereka adalah putra-putra terbaik bangsa yang diharapkan bisa memimpin bangsa ini dengan lebih baik.
Tidak ada yang salah dengan Jokowi atau Prabowo. Justru yang salah adalah kita, sudah berapa jam yang dihabiskan untuk menonton debat-debat tanpa ujung, sudah berapa ratus artikel propaganda omong kosong yang sudah kita baca, berapa jam sehari yang kita habiskan untuk peduli terhadap politik B.S ini.

Kalau kita coba convert waktu yang terbuang itu menjadi sesuatu yang lebih produktif. Saya rasa keadaan negara ini akan lebih baik. Akan lebih banyak orang sukses di negara ini, tidak ada lagi sampah masyarakat yang kerjaannya berbuat ulah di negara ini. Ujung-ujungnya kemakmuran dan kedamaian akan tercipta karena sistem masyarakatnya yang saling membangun bukan saling menghancurkan dan menyalahkan.

Saat ini, energi kita banyak terbuang untuk melakukan hal-hal yang besar tapi lupa menyisihkan energi untuk hal-hal kecil yang lebih besar efeknya.
Contohnya seperti, “menggulingkan rezim tertentu berharap rezim pengganti bisa membuat perekonomian menjadi lebih baik” atau sebaliknya “mempertahankan rezim tertentu karena calon rezim pengganti tidak lebih baik dari rezim sebelumnya”

Padahal.. kalau saja, effort yang dipakai untuk menggulingkan atau mempertahankan rezim itu dipakai untuk hal lain seperti membangun bisnis, belajar agar lulus kuliah atau kursus keterampilan tertentu. Tentu saja secara akal sehat, 3 hal kecil yang saya sebutkan di akhir. Efeknya lebih real terhadap perekonomian pribadi daripada hal besar seperti menggulingkan suatu rezim dan “berharap” perekonomian lebih baik.

Ya begitulah.. Kadang kita lupa mengurusi diri kita sendiri gara-gara terlalu sibuk mengurusi orang lain.

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan