Mengenal Fenomena Disruption Dalam Kehidupan

Disruption, sebuah istilah yang sangat populer saat ini. Terjadi di mana-mana. Sepinya pusat-pusat perbelanjaan, demo angkutan offline, tumbangnya raksasa ritel CD music . Semua dikarenakan terjadinya disruption.

Kegiatan penjualan di pusat perbelanjaan sekarang sudah tergantikan dengan adanya online shop yang bertebaran dimana-mana. Ini menjadikan daya tarik pusat perbelanjaan tidak lagi ada pada tempat penjualannya yang lengkap dan mewah, tetapi lebih dimanfaatkan sebagai tempat nongkrong, makan, nonton, tempat bermain anak ataupun aktifitas aktifitas offline lainnya.

Namun fenomena disruption yang terjadi di pusat perbelanjaan tidak terlalu “membunuh” para pedagang di sana. Ini karena para pedagang di pusat perbelanjaan lebih bisa mengantisipasinya dengan mulai bergeser ke sistem semi online. Istilahnya adalah menggiring customer untuk melihat barang-barang mereka di internet kemudian membuat mereka bebas memilih apakah ingin bertransaksi secara online atau datang ke tempat mereka di pusat perbelanjaan. Para pedagang ini dimudahkan karena masih bisa memanfaatkan marketplace (Bukalapak, Shopee dsb) atau membuat toko online sendiri menggunakan platform yang banyak disediakan dan mudah digunakan.

Nasib berbeda terjadi di bidang transportasi. Tidak banyak pengusaha di bidang transportasi yang bisa beradaptasi menghadapi perubahan. Ini dikarenakan sistem online untuk dunia transportasi membutuhkan sumber daya yang cukup besar contohnya untuk pembuatan Aplikasi Transportasi Online. Selain itu promosinya pun harus gencar dan akan menelan biaya yang tidak sedikit.  Hanya perusahaan-perusahaan besar saja yang mampu beradaptasi. Contohnya Blue-Bird yang sekarang sudah bermitra dengan Go-Jek.

Mengenal Fenomena Disruption Dalam Kehidupan

Ujung-ujungnya pelaku bisnis transportasi offline yang tidak mempunyai sumber daya yang cukup menjadi terseok-seok. Mereka tidak bisa bersaing dengan pelaku bisnis transportasi online sehingga satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan menyenggol masalah regulasi. Tidak heran di Bandung sempat ada wacana pelarangan transportasi online walaupun ujung-ujungnya transportasi online tetap diperbolehkan di Bandung.

Tapi perlu diingat apa yang saya soroti di atas hanyalah sebagian kecil dari fenomena disruption.  Disruption bukan hanya fenomena yang terjadi karena adanya perkembangan teknologi internet kemudian teknologi internet menggusur pekerjaan yang tidak membutuhkan teknologi internet.

Makna disruption sangat luas. Disruption bisa terjadi pada bidang apapun, teknologi, kesehatan, politik, sosial, bahkan budaya pun bisa terdisrupsi.

Beralihnya penggunaan obat nyamuk bakar menjadi obat nyamuk elektrik, dari obat nyamuk elektrik muncul raket elektrik, kemudian muncul lagi pengharum ruangan yang bisa membunuh nyamuk, kemudian muncul produk Essential Oil yang bisa mengusir nyamuk dengan 100% bahan alami. Itu semua adalah fenomena disruption.

Mengenal Fenomena Disruption Dalam Kehidupan

Bahkan penggantian selada dengan kol goreng yang dilakukan pengusaha pecel lele pun itu bisa disebut fenomena disruption.

Inti dari disruption adalah proses mengganti sesuatu yang ada menjadi lebih hemat, simple, mudah diakses/dipakai, lebih berkualitas, lebih hemat waktu atau lebih akurat. Proses ini mau tidak mau akan membuat suatu pasar yang selama ini tertutup menjadi terbuka dan sebaliknya pasar yang asalnya terbuka bisa menjadi tertutup dan ditinggalkan.

Lalu apa hubungannya dengan dunia digital marketing?

Tentunya sudah tidak perlu diceritakan lagi bagaimana naik turunnya platform tertentu, bergantinya trend social media, atau diblokirnya vimeo dapat berpengaruh terhadap kegiatan yang dilakukan para IM/DM. Para IM/DM mau tidak mau harus beradaptasi, harus meninggalkan, harus belajar hal baru setiap adanya penggantian trend.

Contohnya saja skandal yang terjadi antara Facebook dan Donald Trump. Skandal kebocoran data ini cukup menghebohkan sehingga membuat industry-industri .COM harus mengkaji kembali mengenai pengaturan privacy-nya.

Mengenal Fenomena Disruption Dalam Kehidupan

Akibat kejadian tersebut sekarang facebook tidak menampilkan lagi potential reach untuk custom audience.

Exclusive: Facebook will no longer show audience reach estimates for Custom Audiences after vulnerability detected

Kalau saya boleh berpendapat ini adalah salah satu bentuk reverse disruption karena fenomena disruption cenderung mengarah dari owning menjadi sharing. Sedangkan ini sebaliknya.

Poin inti dari tulisan ini adalah bagaimana kita mengenal disruption yang setiap detik terjadi di muka bumi ini dan peran yang kita ambil. Apakah akan membuat disruption? Mengikuti disruption? atau malah menentang disruption.

Your Choice.

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan