Mental Miskin

Hari ini saya akan menceritakan sesuatu yang sedikit sensitif untuk diceritakan, atau istilah kerennya adalah blue material. Tapi bukan blue film ya.. walaupun blue film masuk ke blue material tapi untuk kali ini dengan sangat berat hati pembahasan tentang blue film kita tunda sampai saatnya kita bisa bersama.

Blue material kali ini adalah kemiskinan, MISKIN! Sebutan miskin sangat terlarang untuk dipakai,

Ada yg bilang kita tidak punya hak untuk menghina apapun yang tidak bisa dirubah oleh objek yang dihina. walaupun kemiskinan bisa diubah.. tapi yaudahlah, saya akan mengemas content ini dengan lebih bijak dengan cara menambah kata mental sebelum miskin. MENTAL MISKIN!

Sebagai kaum menengah, yg tidak kaya dan tidak miskin, saya merasa mempunyai hak untuk membicarakan ini. .
Intinya sebelum saya jadi orang kaya saya harus cepat2 membuat konten ini (Aamiin) karena kalau udah jadi orang kaya, bisa bahaya, entar dibilang orang kaya sombong. Pokoknya saya sangat tidak merekomendasikan orang yg sudah kaya membahas ini.

Contoh fenomena mental miskin ini adalah pengemis2 palsu di Indonesia, sekitar tahun 2014-2015 (lupa) sempat marak pemberitaan tntang pengemiskaya raya, yang menjadikan pasar ngemis lesu selama beberapa tahun.
Bukan apa2, orang jadi ragu2 untuk memberikan uangnya ke pengemis karena tahu ada sebagian pengemis yang kaya raya. Benar-benar luar biasa, ketika orang berlomba2 ingin terlihat kaya di mata orang lain, pengemis palsu ini memilih untuk menjadi terlihat miskin.. .

Unek-unek saya sebenernya sangat banya, tetapi demi terciptanya PILGUB JABAR yang tertib dan kondusif tulisan yang cukup sensitif ini tidak akan saya teruskan.
Well, see you.

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan