Ngelanggar Lalu Lintas

NGELANGGAR. bagi beberapa orang sudah jadi hal yang biasa. Tergantung kita memandang sesuatu biasanya sesuatu yang kita anggap kecil lebih gampang kita langgar. Coba pilih, mending membunuh seekor jangkrik atau membunuh seekor kucing. Tentu kita akan memilih membunuh jangkrik karena membunuh kucing akan membuat kita lebih merasa bersalah.
Ini karena secara psikologis ukuran kucing yang lebih besar membuat kita lebih aware dan “lebih menganggap” kucing sebagai sesuatu yang hidup.
Mungkin akan ada beberapa yang protes, kucing kan binatang peliharaan, ya wajar kita jadi ngerasa bersalah. Ok sekarang coba bandingkan sekali lagi, bagaimana perasaan kalian ketika membunuh seekor nyamuk biasa (nyamuk kecil) dengan seekor nyamuk besar (nyamuk domba) kalau gak salah namanya nyamuk domba pokoknya nyamuk yg gede. Jawabannya silakan kalian simpan sendiri.

Sama juga konteksnya dengan pelanggaran lalu lintas, mulai dari melanggar rambu, melanggar sinyal lalu lintas, lawan arah, naik ke trotoar, kebut-kebutan dll. Kalau kita menganggap lawan arah itu sesuatu yang kecil, tidak berarti. Tentunya kegiatan melawan arah ini tidak akan membuat kita merasa berdosa.

Sekarang masalahnya kenapa sesuatu bisa kita anggap kecil? Karena kita tidak aware, kita tidak kenal, kita tidak teredukasi terhadap masalah tersebut. Jadi ketika kita melihat orang melanggar peraturan lalu lintas misalnya, jangan memaki, atau mengklakson berlebihan yang menimbulkan polusi suara. Tapi edukasi, buat dia aware kalau dia melanggar sesuatu.
Caranya tidak harus secara langsung mengedukasi orang yang saat itu melanggar peraturan, boleh2 saja sebenarnya tapi silahkan resiko ditanggung sendiri.

Mengedukasi bisa mulai dari teman, seperti yang saya lakukan ke teman saya sebut saja mas purnomo. Dia adalah teman saya yang mempunyai motto hidup “peraturan ada untuk dilanggar”. Keren sekali kedengerannya.

Untuk mengimbangi motto hidup teman saya yang sudah mendarah daging itu, Saya sering mengutip kata-kata dari dosen saya dulu yang bernama Pak Atmam. begini katanya

“Kecelakaan lalu lintas itu adalah akumulasi dosa-dosa kita ketika melanggar peraturan lalu lintas”. Mas Purnomo cuman iya iya aja seolah-olah menyetujui perkataan saya. Mungkin saja ketika itu terjadi pergulatan batin di dalam dirinya. “Ah Bullshit” “Tapi bener oge sih” “Ah Bullshit” “Tapi aya benerna oge”. Oh iya jangan heran, mas purnomo ini namanya saja yang jawa, aslinya dia sunda expert.

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan