Nikmat Selera

Dulu saya heran, kenapa di TV TV ada adegan orang kaya arogan ketika disuruh makan makanan murah dia tidak mau memakannya.

Tapi sekarang saya mengerti. Ternyata bagi orang kaya memakan makanan yang murah merupakan sebuah perjuangan.

Lidah mereka akan berjuang keras untuk merasakan makanan yang ada tersebut. Ini saya alami sendiri, tapi bukan maksudnya saya merasa sudah kaya, ini hanya sharing pengalaman dan hasil observasi sebuah transformasi kebiasaan dari suatu level finansial ke level finansial tertentu.

Ini terjadi pada saya. Mendapatkan gaji pertama tentu sangat membahagiakan. Dari asalnya apa-apa uang dari ortu yang terbatas, sekarang bisa mendapatkan uang lebih banyak dari budget yang biasanya saya dapatkan.

Tentu saja hal tersebut membuat saya gatal sekali untuk membelanjakannya pada hal-hal yang bisa memuaskan nafsu birahi saya.

Sejak saya punya penghasilan sendiri, saya jadi sering memilih makanan yang lebih mahal dari yang biasanya saya makan.

Ada harga ada rasa. Sudah tidak bisa dibantah lagi kalau masakan seorang chef lebih enak dari masakan seorang tukang nasi goreng biasa.

Hal tersebut saya lakukan pada bulan-bulan awal saya mendapatkan penghasilan atau yang biasa disebut first salary syndrome yang berlanjut ke second salary syndrome berlanjut lagi ke third salary syndrome berlanjut lagi ke…….

Tetapi ketika sindrom itu berakhir atau dengan kata lain saya mulai sadar pada keuangan masa depan saya. Saya mulai memilih untuk tidak menghabiskan uang saya hanya pada pilihan makanan yang saya konsumsi. Sangat tidak bijak uang gaji yang saya dapatkan hanya berputar di situ-situ saja.

Kalau kata om saya, “Hidup itu jangan seperti ayam. Hari ini cari makan besok harus cari makan lagi”.

Saya mulai dengan mengurangi budget makan saya untuk disalurkan ke hal-hal lain yang lebih produktif.

Saya mulai memilih makan di warteg.

Tapi ini yang menarik, ternyata sulit sekali memakan makanan dengan cita rasa warteg.

Tidak ada satupun masakan warteg yang menggugah selera saya. Terdengar arogan, tapi memang itu kenyataannya.

Padahal dulu-dulu saya fine-fine saja makan makanan warteg. Sekarang kalau tidak lapar-lapar amat terus disuruh makan di warteg rasanya mending gak usah makan. Karena terlepas dari saya emang gak terlalu suka makan, yang bisa dilihat di artikel ini.

Masakan warteg menurut saya tidak enak, bukan bermaksud mengeneralisir.

Tetapi, entah kenapa saya ngerasa masakan warteg dibuat secara asal-asalan tanpa memperdulikan unsur rasa dalam masakan.

Tidak semua, tapi itu yang saya rasakan.

Dari tulisan saya di atas bisa kita tarik kesimpulan bahwa Allah/Tuhan itu maha adil. Ketika orang kaya bisa menikmati suatu makanan yang harganya mahal maka Allah/Tuhan memberikan karunianya pada orang miskin agar tetap bisa menikmati makanan senikmat yang dirasakan oleh orang kaya dengan versi yang jauh lebih murah.

Sekarang saya pribadi berusaha untuk beradaptasi kembali dengan makanan-makanan yang sederhana. Sederhana bukan berarti miskin, sesederhana apapun, semurah apapun karunia tetap diberikan seadil-adilnya oleh Allah/Tuhan pada kita.

Bagi orang kaya jangan sombong karena belum tentu kalian bisa merasakan nikmat yang bisa dirasakan orang miskin.
Sedangkan Bagi orang miskin bersyukurlah karena ternyata Allah/Tuhan memberikan nikmat yang besar dari hal-hal kecil pada kalian.

Tapi.. ingat, jangan lupa berusaha.
Diri kita hari ini harus lebih baik dari diri kita kemarin..

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan