Uang Koin Bisa Merusak Otak

Kenapa saya bisa mengeluarkan statement seperti itu? Iqro ya, Iqro sampai akhir..
Biasanya uang koin ini “terproduksi” dari dari hasil transaksi di Warteg, Alfamar, Indomar, Tukang Pecel Lele, Warung Nasi Padang, Nasi Kuning Panghegar, dll.
Nah, sekarang saya beritahukan kenapa bisa merusak otak. Dengan terciptanya uang2 koin dari hasil transaksi di atas, mau tidak mau kita harus memikirkan strategi “mau disimpen dimana nih uang koinnya?”
Pilihan paling tepat adalah di saku. Masalahnya, saku biasanya penuh dengan hal2 penting lainnya. Bisa Flashdisk, Kunci, Sisir dll.
Apa yang terjadi ketika koin dan hal2 penting tersebut menyatu dalam satu ruang?? otak akan terdisrupsi.
Seolah2 hidup ini berantakan! Ini bukan main-main ya, ini tulisan serius. .
Seperti pada kasus kamar berantakan. Kalau kamar kalian berantakan ada mood buat ngerjain sesuatu gak? pasti gak ada. Enaknya tiduran terus tidur beneran.
Beda kalau kamar sudah rapi.. “Kamar udah rapi nih, tinggal kehidupan yg belum rapi”. Gitu kan?

Selain membuat saku saya berantakan. Koin juga bisa membuat laporan cashflow saya berantakan.
Saya orang yang menggunakan aplikasi android Money Manager untuk mengontrol keuangan, di app itu ada keterangan Account yang berarti uang di akun rekening bank dan ada Cash yang berarti uang tunai.

Untuk realnya, Account tentu jelas disimpan di akun rekening bank, klo Cash disimpan di dompet. Nah klo koin disimpen di mana?

Kadang ketika verifikasi antara app money manager dgn keadaan real saya suka bingung, “ini duit kemana??” Eh ternyata duitnya ngalir di komoditas koin.. Yaudah akhirnya terpaksa saya hitung berapa jumlah uang koin yg ada, memasukannya ke tas koin kemudian ngasih keterangan di money manager “pengeluaran recehan”.

Saya masukkan ke “pengeluaran” karena mau gimana lagi, uang koin susah dibawa-bawa. Solusinya paling dikumpulin sampai tiba waktunya dipakai untuk saweran.

Pesan terakhir, saya minta menteri keuangan bu @smindrawati mempertimbangkan untuk menarik semua uang koin dan menggantinya dengan uang kertas.
Terima Kasih

We will be happy to hear your thoughts

Kirimkan Pesan